ENERGY ANALYSIS FOR AIR CONDITIONING SYSTEM USING FUZZY LOGIC CONTROLLER

Dalam suatu proses sistem pengkondisi udara dibutuhkan penyesuaian kenyamanan suhu ruangan yang tepat dengan berbagai pertimbangan, sehingga sistem bisa mengeluarkan keluaran dengan ketentuan suhu yang tepat. Mulai dari selang interval hingga beban daya pendingin dapat disesuaikan secara otomatis oleh sistem, tulisan ini akan membahas bagaimana peran konsep fuzzy dapat mengendalikannya hingga dapat menghemat energi sebuah pendingin saat beroperasi.

Pada sistem kerja pendingin yang sudah pernah ada biasanya hanya menggunakan satu pilihan kondisi saja, mulai dari selang interval, pola gerak, kecepatan hingga suhu pada pendingin. Terdapat 4 komponen pada sebuah pendingin yang diperhitungkan diantaranya :

  1. Coefficient Performance, proses ini bertujuan untuk menentukan suhu berapakah yang cocok untuk dikeluarkan dari sebuah pendingin sehingga suhu ruangan lebih nyaman.
  2. Energy Saving, penghematan energi ini akan mengkalkulasikan seberapa banyak daya yang digunakan saat pendingin dalam keadaan on.
  3. PID Controller, sebuah algoritma yang digunakan untuk mengatur cara kerja pendingin secara umum dengan mengelola sinyal yang datang pada pendingin.
  4. Fuzzy Logic Controller (FLC), komponen yang paling penting pada sebuah pendingin karena komponen ini memungkinkan suatu input signal yang masuk diproses dengan beberapa cara kerja seperti, fuzzification, inference mechanism, fuzzy rule base, fuzzification dan akhirnya menghasilkan suatu output yang dapat dijadikan acuan operasi pendingin.

Dari beberapa uraian yang disajikan dari tulisan ini, bahwa teknologi FLC telah dikembangkan menjadi sebuah mesin yang dapat mendeteksi kecepatan motor, selang interval, temperatur suhu untuk menghasilkan suatu keluaran yang dapat bekerja secara otomatis mengendalikan suatu mesin pendingin. Teknologi FLC pun kini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan teknologi PID yang telah ada sebelumnya terutama dari segi hemat energi.

Sumber :

Henry Nasution, Hishamuddin Jamaluddin, Jamaluddin Mohd. Syeriff
Department of Mechanical Engineering & Faculty of Mechanical Engineering
Universitas Bung Hatta (UBH), Padang & Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

PENERAPAN KONSEP FUZZY DALAM VARIABLE-CENTERED INTELLIGENT RULE SYSTEM (Studi Kasus: Pemilihan Jurusan di Chinese University of Hongkong)

Dalam suatu sistem berbasis pengetahuan yang disusun oleh sebuah aturan biasa disebut Rule-based System (RBS) / sistem pakar. Pada dasarnya sebuah sistem pakar tradisional masih menggunakan metode forward dan backward selama proses inferencing/penarikan kesimpulan sehingga mendapatkan beberapa jawaban dalam konteks yang spesifik.

Ripple Down Rules (RDR) merupakan suatu metode pendekatan yang diangkat pada tulisan ini, metode ini memaksa interaksi antara sebuah pakar dan sebuah shell untuk mengakuisisi hanya pada pengetahuan yang benar. Dalam menunjang metode ini pun digunakan sebuah metode lainnya yaitu Variable-centered Intelligent Rule System, metode ini pada prinsipnya menggabungkan 2 metode yang sudah ada yaitu RBS dan RDR. VCIRS memungkinkan pengguna memperbaiki node/rule yang telah ada pada KB (Knowledge Base).

Konsep fuzzy dalam metode ini digunakan untuk memodelkan bilangan-bilangan tidak pasti pada metode VCIRS, dengen fuzzy set dan fuzzy rule inilah angka-angka crisp  dapat direpresantasikan menjadi sebuah kesimpulan dengan bantuan sebuah operator fuzzy. Pada tulisan ini hasil yang  didapatkan dari bantuan fuzzy logic ini dirubah menghasilkan sebuah presentase keyakinan seorang mahasiswa cocok masuk ke suatu jurusan berdasarkan hasil ujian calon mahasiswa, pekerjaan masa depan hingga ketertarikannya pada suatu jurusan.

Sumber :

Irfan Subakti dan Oky Wijayanto
Jurusan Teknik Informatika
Fakultas Teknologi Informasi
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya

DESAIN ALGORITMA DAN SIMULASI ROUTING UNTUK GATEWAY AD HOC WIRELESS NETWORKS

Jaringan ad hoc merupakan suatujaringan tanpa infrastruktur masing-masing node adalah suatu router yang bergerak dan dilengkapi dengan tranceiver wireless. Pada routing tradisional jaringan kabel lebih sering digunakan pendekatan seperti algoritma distance vector dan link state, namun masih banyak algoritma optimasi yang lebih ditujukan untuk menemukan minimum hop rute dari sumber ke tujuan.

Pada paper yang telah dikembangkan ini, akan melanjutkan seluruh kiriman pesan melalui node-node yang bergerak. Tahap implementasi teori-teori yang diangkat pada topik ini memanfaatkan  3 gateway yang dipasang di darat dan 10 node yang diasumsikan sebagai nelayan yang bergerak di laut. Pada kenyataannya simulasi ini akan menggunakan komunikasi VHF. Simulasi perutean ini dibantu dengan bantuan Google Earth dalam pemodelan bagaimana rute node-node ini terbentuk sehigga menjadi sebuah rute dengan bentuk node yang acak.

Komunikasi VHF merupakan metode pendekatan perutean yang memanfaatkan routing protocol untuk gateway ad hoc, Allrotma perutean ini akan mengacu pada perpindahan jarak node-node dan gateway, gateway tersebut akan meneruskan kiriman paket datanya dengan link cost yang efisien. Algoritma ini pun diharapkan pada akhirnya bias digunakan oleh para nelayan dalam meningkatkan kinerja mereka.

Sumber :

Nixson J. Meok
Staff  Pengajar Jurusan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Nusa Cendana, Kupang

ANALISIS KINERJA RIP (ROUTING INFORMATION PROTOCOL) UNTUK OPTIMALISASI JALUR ROUTING

Jaringan komputer dewasa ini merupakan sesuatu ysng sangat dibutuhkan untuk menghubungkan bebagai bidang, seperti pemerintahan hingga kampus. Masalah-masalah yang sering muncul pada sebuah jaringan komputer yaitu sering mengalami time out, data yang dikirimkan lambat, atau rusak dan bahkan tidak sampai ke tujuan dengan alasan mungkin jaraknya terlalu jauh. Pada praktiknya suatu bentuk pemetaan topologi jaringan membutuhkan suatu metode perutean/routing. Dengan berbagai teknologi routing yang ditawarkan, prinsipya routing bertujuan untuk membuat komunikasi jaringan berjalan dengan baik, perangkat yang melakukan proses routing  ini dinamakan router. Router ini mampu melewatkan paket IP dari suatu jaringan ke jaringan lainnya.

RIP (Routing Internet Protocol) merupakan suatu teknologi protokol yang dimanfaatkan dalam pemilihan ruter terbaiknya, RIP memiliki tingkat kempleksitas komputasional yang jauh lebih rendah sehingga pemakaian memorinya pun relatif rendah. RIP sangat cocok digunakan pada bentuk topologi jaringan dengan skala kecil dan sedang. Pada proses RIP algoritma yang digunakan bukan hanya mengadopsi protokol distance vector melainkan dengan menambahkan algoritma agar perutean dapat diminimalkan, split horizon pun biasa digunakan RIP untuk meminimalisir efek bouncing.

Setelah beberapa percobaan dilakukan, kecepatan rata-rata waktu reply request yang dihasilkan lebih rendah pada saat link yang dinotasikan diputuskan. Hal ini menandakan RIP mampu memberikan rute terpendek sekaligus rute terbaik yang dilalui oleh suatu paket data yang dikirimkan dari hop ke hop.

Sumber :

Kadek Chandra Tresna Wijaya
Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Ilmu Komputer,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.
Email:kadek.chandratresna@cs.unud.ac.id

ANALISIS UNJUK KERJA PROTOKOL ROUTING WIRELESS OPEN SHORTEST PATH FIRST (WOSPPF) PADA ARSITEKTUR JARINGAN WIRELESS LOCAL AREA NETWORK 802.11 DENGAN NETWORK SIMULATOR-2

Perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini lebih dititikberatkan pada mobilitas dan trend yang ada, perkembangan teknologi kini pun sudah banyak menggunakan teknologi wireless. Langkah pengembangan teknologi ini pun perlu ditunjang dengan adanya perencanaan pemetaan topologi jaringan yang besar dan kompleks, untuk teknologi wireless ini biasa digunakan  protokol routing Wireless Open Shortest Path First (WOSPF). Teknologi protokol routing ini memiliki kelebihan utama dapat secara cepat mendeteksi perubahan dan menjadikan routing kembali konvergen dalam waktu singkat dengan sedikit pertukaran data.

Teknologi yang digunakan pada routing protokol ini adalah teknologi link-state yang didesain untuk bekerja dengan efektif, prinsip kerjanya teknologi ini akan menghitung semua rute terbaik dari peta topologinya. Peta jaringan tersebut lalu disimpan dalam sebuah basis data dan menyatakan sebuah keterkaitan antar jaringan di dalamnya. Lalu record-record tersebut dikirimkan oleh routing perlu memiliki peta jaringan yang menggambaran kondisi terakhir topologi jaringan tersebut secara lengkap, maka dari itu teknologi routing protocol ini disebut-sebut menjadi teknologi routing protokol paling efektif dalam pembentukan topologi jaringan berskala sedang atau besar.

Media kerja protokol ini diantaranya menggunakan [Novandi A.D] :

–          Broadcast Multiaccess

Media jenis ini pada prinsipnya akan memilih 2 buah routing yang berfungsi sebagai Designated Router (DR) dan Backup Designated Router (BDR).

–          Point to Point

Teknologi seperti ini digunakan dimana hanya ada satu routing lain yang terkoneksi langsung dengan sebuah perangkat routing lainnya, dalam kondisi ini tidak perlu dibuatkan BR dan DBR.

–          Point to Multipoint

Bentuk media ini akan memiliki suatu antarmuka yang menghubungkannya dengan banyak tujuan routing, jaringan-jaringan yang ada di bawahnya dianggap sebagai serangkaian jaringan point to point yang saling terkoneksi langsung ke perangkat utamanya. Pesan-pesan protokol routing tersebut akan digandakan ke seluruh jaringan point to point tersebut.

–          Non Broadcast Multiaccess (NBMA)

Media dengan bentuk seperti ini secara fisik merupakan sebuah serial line biasa yang sering ditemua pada media jenis point to point, namun pada kenyataannya media ini dapat menyediakan koneksi ke banyak tujuan tidak menuju 1 titik saja.

Sumber :

Sri Andriati Asri dan Widyadi Setiawan

Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali

Jurusan Teknik Elektro Universitas Udayana

SIMULASI ALGORITMA DIJKSTRA PADA PROTOKOL ROUTING OPEN SHORTEST PATH FIRST

Dengan menggunakan beberapa algoritma, mekanisme routing pada suatu pemetaan topologi jaringan bisa dilakukan dengan cara yang optimal. Pada jurnal ini dikembangkan suatu pengembangan mekanisme routing dengan algoritma Djikstra, algoritma akan mencari suatu tahapan jalur routing dengan membandingkan masing-masing nilai biaya terendah. Mekanisme utama algoritma ini pada penentuan rute terpendek yaitu dengan mempertimbangkan jumlah hop dan biaya masing-masing rute pada suatu topologi jaringan. Simulasi yang dilakukan pada implementasi algoritma ini pun mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi jaringan yang terjadi.

Sumber :

Eman Suherman                Agung Budi Prasetijo,ST,MIT                Ir.Sudjadi,MT